Hostile Architecture
kenapa kursi taman dibuat tidak nyaman untuk diduduki lama
Pernahkah kita duduk di kursi taman kota, berniat santai sejenak sambil menunggu teman, tapi baru lima menit pantat sudah terasa pegal? Bentuk kursinya mungkin terasa agak aneh. Ada yang permukaannya miring ke bawah. Ada yang terbuat dari logam super dingin tanpa sandaran. Atau yang paling sering kita lihat, ada sandaran tangan besi kokoh yang diletakkan persis di tengah-tengah kursi, seolah membagi tempat duduk itu secara paksa. Kita mungkin mendengus dan berpikir, "Wah, desainer tata kotanya payah nih, bikin kursi kok sama sekali nggak ergonomis." Sayangnya, tebakan kita salah besar. Desain itu justru sangat disengaja, dihitung dengan sangat teliti. Dan di balik ketidaknyamanan fisik yang kita rasakan siang itu, ada sebuah pesan rahasia dari kota yang sedang berbisik kepada kita.
Fenomena rancangan yang "menyiksa" ini punya nama resmi dalam dunia tata kota: hostile architecture atau arsitektur bermusuhan. Kedengarannya agak dramatis dan seperti judul film fiksi ilmiah, ya? Tapi coba teman-teman perhatikan lagi jalanan kota yang sering kita lewati sehari-hari. Paku-paku besi tumpul di pinggiran trotoar. Batu-batu koral tajam yang disemen di bawah kolong jembatan layang. Atau lampu neon berwarna biru terang di toilet umum stasiun. Secara psikologis dan historis, ini adalah bentuk modifikasi perilaku melalui desain lingkungan. Dalam sains, ada konsep bernama environmental determinism, di mana lingkungan fisik tempat kita berada bisa membentuk kebiasaan kita. Kota kita secara halus, namun sangat tegas, sedang mendikte apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Pesan dari kursi taman yang miring tadi sebenarnya sangat jelas: "Boleh lewat, boleh duduk sebentar kalau capek, tapi jangan lama-lama. Dan tolong, jangan jadikan tempat ini rumahmu."
Sampai di titik ini, kita mungkin mulai berpikir kritis dan bertanya-tanya. Kalau ruang publik itu secara harfiah diciptakan untuk "publik", lantas publik macam apa yang sebenarnya diinginkan oleh kota? Di sinilah ceritanya menjadi sedikit rumit dan menyentil empati kita. Target utama dari desain-desain tidak ramah ini sebenarnya sangat spesifik. Mereka adalah kelompok rentan, terutama tunawisma yang tidak punya tempat bernaung, atau mungkin anak-anak muda yang dianggap sering nongkrong bergerombol dan berbuat onar. Para perencana kota menggunakan ilmu psikologi spasial untuk menciptakan rasa tidak aman atau ketidaknyamanan akut bagi kelompok-kelompok tersebut. Secara neurobiologis, ketika manusia berada di lingkungan yang penuh dengan sudut tajam, permukaan keras, atau modifikasi yang aneh, amigdala di otak kita—yakni pusat alarm pendeteksi bahaya—akan otomatis aktif. Kita jadi merasa gelisah dan ingin cepat-cepat pergi. Namun pertanyaan besarnya adalah, apakah menyingkirkan kelompok rentan dengan paku dan besi ini benar-benar menyelesaikan masalah sosial kita? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang menyapu debu ke bawah karpet ruang tamu agar terlihat bersih saat ada tamu datang?
Di sinilah kita sampai pada kenyataan sains yang paling mengejutkan. Riset dalam bidang psikologi sosial dan tata ruang menunjukkan bahwa hostile architecture tidak hanya berdampak pada kaum tunawisma, tetapi sebenarnya sedang merusak struktur otak sosial kita semua. Saat kita setiap hari disuguhi desain yang bertujuan menyingkirkan kelompok yang paling lemah, tanpa sadar lingkungan sedang melatih kita untuk kehilangan empati. Kita perlahan mengalami apa yang oleh para psikolog disebut sebagai compassion fatigue atau kelelahan empati. Secara biologis, produksi hormon oksitosin di otak kita—hormon yang mengikat kita sebagai sesama manusia dan melahirkan rasa belas kasih—bisa tumpul saat kita melihat ruang publik berubah menjadi arena pertahanan diri yang egois. Desain berduri ini terbukti secara ilmiah tidak pernah menyelesaikan masalah kemiskinan atau krisis perumahan. Ia hanya menyembunyikan masalah tersebut dari pandangan mata kita. Ujung-ujungnya, senjata makan tuan. Kursi taman yang dipasangi besi di tengahnya itu tidak hanya mencegah orang miskin tidur merebahkan badan, tapi juga mencegah seorang ibu hamil untuk duduk nyaman, dan membuat seorang kakek yang kelelahan tidak bisa beristirahat sejenak. Kita semua ikut dihukum oleh desain ini.
Ternyata, sebuah kursi taman yang sederhana bisa bercerita sangat banyak tentang tingkat peradaban kita. Membangun kota yang rapi dan aman memang sangat penting. Namun, sains dan sejarah selalu mengajarkan satu hal penting kepada kita. Keamanan sejati tidak pernah lahir dari paku, besi, atau beton yang bermusuhan dengan manusia. Keamanan lahir dari kohesi sosial, keadilan, dan rasa saling memiliki. Mulai sekarang, saat teman-teman berjalan-jalan sore dan menemukan kursi taman yang bentuknya aneh, batu tajam di sudut jalan, atau desain yang membuat kita mengerutkan kening, berhentilah sejenak. Amati benda tersebut dengan kacamata baru. Ingatlah bahwa ruang publik yang sehat secara psikologis seharusnya merangkul, bukan memukul mundur. Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, kota seperti apa yang sebenarnya ingin kita wariskan? Apakah kota yang terus-menerus sinis dan curiga? Ataukah kota yang dengan hangat menyediakan ruang bagi kita semua untuk sekadar duduk, bernapas, dan menjadi manusia seutuhnya?